
Pada prinsipnya, manajemen digunakan ketika terjadi kondisi yang membutuhkan perbaikan. Ihwal tentang sebuah perbaikan bukanlah sesuatu yang berdiri pada tatanan yang beraturan, tetapi lebih kepada kondisi yang membutuhkan keteraturan.
Untuk “mengatur” ketidakteraturan, sebenarnya tidak membutuhkan keteraturan, tetapi lebih kepada pencarian sesuatu melalui upaya yang dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip akan ketidakteraturan itu sendiri—Apa yang mengakibatkan? Mengapa mengakibatkan? Apa yang diakibatkan? Dan untuk menjawab ketiga pertanyaan mendasar tersebut, maka dibutuhkanlah suatu upaya yang dinamakan “manajemen”.
Istilah “manajemen” berasal dari kata “management” yang diterjemahkan menjadi pengelolaan, yang berarti suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan.
(1) Pendekatan Otoriter—seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin
(2) Pendekatan Intimidasi—seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi
(3) Pendekatan Permisif—seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa
(4) Pendekatan Masak—seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan
(5) Pendekatan Instruksional—seperangkat kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik
(6) Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku—seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan
(7) Pendekatan Penciptaan Iklim Sosioemosional—seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif
(8) Pendekatan Sistem Sosial—seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif
Ranah Pengetahuan & Keahlian Manajemen Kelas
Dari delapan pendekatan di atas, kemudian Jere Brophy (1988); (dalam Jones Vern & Louise, 2012:16), menyatakan bahwa “manajemen kelas yang baik bukan hanya secara tidak langsung dapat bekerja sama dengan siswa dalam mengurangi perilaku menyimpang dan dapat menangani secara efektif ketika perilaku tersebut terjadi, tetapi juga menopang kegiatan akademik yang bermanfaat. Dan manajemen kelas merupakan sistem manajemen kelas sebagai suatu keseluruhan (termasuk tidak terbatas hanya intervensi disiplin guru) yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan siswa dalam aktivitas ini, jadi tidak sekedar mengurangi perilaku menyimpang”.
Jika diperhatikan secara seksama, definisi yang ditawarkan Brophy, merupakan konsep manajemen kelas yang kompherensif, dan termasuk dalam 4 (empat) ranah pengetahuan dan keahlian. Dapat dijelaskan masing-masing ranah tersebut sebagai berikut:
(a) Kebutuhan Personal dan Psikologis Siswa—meskipun muncul kekhawatiran yang luas terhadap prestasi belajar dan perilaku menyimpang pada siswa, sangat sedikit guru yang mengetahui dengan pasti mengapa masalah ini muncul dan bagaimana hubungan antara masalah dan perilaku profesional mereka dan kekeliruan dalam memenuhi kebutuhan personal serta akademik siswa. Jadi dalam hal ini guru seharusnya memahami kebutuhan siswa dan bagaimana kebutuhan ini berhubungan dengan perilaku. Kemudian guru mengembangkan kelas yang tentunya termanajemen dengan baik, yaitu sebagai upaya untuk meyakinkan bahwa kebutuhan personal siswa terpenuhi di kelas
Istilah “manajemen” berasal dari kata “management” yang diterjemahkan menjadi pengelolaan, yang berarti suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan.
Maksud dari pada manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif.
Menurut konsepsi lama, sebuah manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Sementara menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas (Lois V. Jhonson dan Mary Bany, 1970; dalam BK, 2011).
8 Pendekatan Manajemen Kelas
Sehingga berdasarkan Pandangan Pendekatan Operasional Tertentu (PPOT), maka seorang Wilford Weber (1986) menyatakan bahwa manajemen kelas dapat ditelusuri berdasarkan pada 8 (delapan) pendekatan, yaitu sebagai berikut:
Menurut konsepsi lama, sebuah manajemen kelas diartikan sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Sementara menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tetap terhadap problem dan situasi manajemen kelas (Lois V. Jhonson dan Mary Bany, 1970; dalam BK, 2011).
8 Pendekatan Manajemen Kelas
Sehingga berdasarkan Pandangan Pendekatan Operasional Tertentu (PPOT), maka seorang Wilford Weber (1986) menyatakan bahwa manajemen kelas dapat ditelusuri berdasarkan pada 8 (delapan) pendekatan, yaitu sebagai berikut:
(1) Pendekatan Otoriter—seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin
(2) Pendekatan Intimidasi—seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi
(3) Pendekatan Permisif—seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa
(4) Pendekatan Masak—seperangkat kegiatan guru menciptakan suasana kelas dengan cara mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan
(5) Pendekatan Instruksional—seperangkat kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik
(6) Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku—seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan
(7) Pendekatan Penciptaan Iklim Sosioemosional—seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif
(8) Pendekatan Sistem Sosial—seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif
Ranah Pengetahuan & Keahlian Manajemen Kelas
Dari delapan pendekatan di atas, kemudian Jere Brophy (1988); (dalam Jones Vern & Louise, 2012:16), menyatakan bahwa “manajemen kelas yang baik bukan hanya secara tidak langsung dapat bekerja sama dengan siswa dalam mengurangi perilaku menyimpang dan dapat menangani secara efektif ketika perilaku tersebut terjadi, tetapi juga menopang kegiatan akademik yang bermanfaat. Dan manajemen kelas merupakan sistem manajemen kelas sebagai suatu keseluruhan (termasuk tidak terbatas hanya intervensi disiplin guru) yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan siswa dalam aktivitas ini, jadi tidak sekedar mengurangi perilaku menyimpang”.
Jika diperhatikan secara seksama, definisi yang ditawarkan Brophy, merupakan konsep manajemen kelas yang kompherensif, dan termasuk dalam 4 (empat) ranah pengetahuan dan keahlian. Dapat dijelaskan masing-masing ranah tersebut sebagai berikut:
(a) Kebutuhan Personal dan Psikologis Siswa—meskipun muncul kekhawatiran yang luas terhadap prestasi belajar dan perilaku menyimpang pada siswa, sangat sedikit guru yang mengetahui dengan pasti mengapa masalah ini muncul dan bagaimana hubungan antara masalah dan perilaku profesional mereka dan kekeliruan dalam memenuhi kebutuhan personal serta akademik siswa. Jadi dalam hal ini guru seharusnya memahami kebutuhan siswa dan bagaimana kebutuhan ini berhubungan dengan perilaku. Kemudian guru mengembangkan kelas yang tentunya termanajemen dengan baik, yaitu sebagai upaya untuk meyakinkan bahwa kebutuhan personal siswa terpenuhi di kelas
(b) Penciptaan Iklim Kelas Positif dengan Menjalin Hubungan Komunitas Mendukung—dalam hal ini terjalin beberapa hubungan positif; guru-siswa dan kawan; adanya keterlibatan positif dengan orang tua dan wali siswa; dan menggunakan metode organisasi dan manajemen kelompok yang melibatkan siswa dalam penegembangan komitmen terhadap standar perilaku dan yang memfasilitasi tugas siswa. Jadi, membentuk perilaku positif siswa yaitu dengan menitikberatkan pada pembentukan lingkungan kelas yang positif, yaitu dengan memperbaiki perilaku dan prestasi siswa secara signifikan dengan instruksi yang bagus.
(c) Metode Instruksional Perilaku untuk Pembelajaran Optimal bagi kebutuhan Akademik Siswa (Kelompok Kelas)—menciptakan lingkungan kelas yang positif yang dicirikan dengan pengajaran efektif, dan keterampilan organisasi akan menyebabkan berkurangnya masalah perilaku dan meningkatkan prestasi belajar serta motivasi belajar siswa. Disini guru membutuhkan kerterampilan manajemen perilaku untuk mendukung keahlian intruksional mereka
(d) Melibatkan Metode Konseling dan Perilaku yang Melibatkan Siswa—menggunakan strategi konseling mendalam disini adalah dengan pendekatan yang efektif dan reklatif sederhana untuk membantu siswa meneliti dan mengubah perilaku mereka. Jadi disini guru harus menguasai teknik pemecahan masalah dan manajemen perilaku.
Selanjutnya untuk menyempurnakan keempat ranah pendekatan manajemen kelas di atas, Lee Manning & Katherine Bucher (2012), melalui karyanya yang berjudul “Classroom Management”, kemudian merangkum beberapa model dan teknik manajemen kelas yang ditawarkan oleh 4 (empat) orang ahli melalui pendekatan-pendekatan khusus yang sesuai dengan situasi dan konteksnya, diantaranya adalah sebagai berikut:
(1) Seorang pendidik behaviorisme, B. F Skinner yang terkenal dengan berbagai teorinya, khususnya model “Modifikasi Perilaku”, dengan teori dasarnya adalah pendidik menggunakan penekanan positif dan negatif atau penghargaan dan hukuman untuk mengubah atau membentuk perilaku siswa. Namun guru sendiri harus cenderung mengutamakan tindakan positif atau penghargaan untuk mengubah perilaku siswa. Ada sebuah usaha untuk tidak membuat peserta didik dipermalukan di depan teman-temannya, namun diberikan pemahaman atas suatu perilaku yang kurang baik secara langsung empat mata.
(2) Sementara Fritz Redl dan William Wattenberg, lebih menggunakan menggunakan model “kerja kelompok dan disiplin kelas”. Adapun teori dasarnya adalah pendidik mendorong siswa untuk memahami perilaku dan tindakan mereka. Di sini, pendidik dituntut untuk memberi pemahaman kepada peserta didik bahwa perilaku peserta didik itu berbeda secara individu dan sebagai anggota kelompok. Di samping itu, pendidik harus melihat situasi senang atau tidak senang untuk mengubah perilaku peserta didik. Disinilah guru seringkali kesulitan mengarahkan peserta didik dalam sebuah kelompok. Bahkan pemberian nilai untuk masing-masing anggota kelompok juga kadang-kadang masih terasa sulit, manakah yang benar-benar bekerja, dan manakah yang hanya main-main saja? Situasi senang atau tidak, juga tidak kalah menantangnya. Karena biasanya, ada seorang peserta didik yang tampaknya sedang ber-mood jelek, namun tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, ada peserta didik yang tampaknya berseri-seri, tapi tidak berhasil memahami materi pembelajaran.
(3) William Glasser menggunakan model “Teori Pilihan dan Kualitas Sekolah”. Adapun teori dasarnya adalah sekolah membantu memenuhi kebutuhan psikologis siswa dan menambah kualitas hidup mereka. Salah satu yang dilakukan pada model di atas adalah adanya pertemuan kelas. Di sini, salah satu tantangannya adalah bagaimana menciptakan suasana yang kondusif.
(4) Thomas Gordon menggunakan model “Pelatihan Guru Efektif”. Adapun teori dasarnya adalah pendidik mengajarkan disiplin diri, menunjukkan cara mendengarkan aktif, mengirim "I-message" daripada "you-message" dan mengajar program mengatasi konflik enam langkah. Menurut teori ini, bahwa salah satu cara terbaik untuk memperbaiki atau mencegah kenakalan adalah pemahaman empatik; yaitu guru mempelajari setiap siswa dan kebutuhan, minat, dan kemampuan mereka. Tampaknya dengan cara ini guru akan tampil bijak, tidak mengumbar marah dan teriakan. Tantangannya adalah ketika kesalahan peserta didik sudah masuk kategori sangat banyak, besar dan serius.
Dari serangkaian penjelasan diatas, dapat ditarik pemahaman mendasar, bahwa hal yang terpenting dalam menajemen kelas di sini adalah bagaimana terjalin suatu “relasi” yang baik dan proporsional antara guru dan murid. Karena kelas pada dasarnya, merupakan tempat yang aktif, tetapi juga produktif, bagi kelangsungan relasi antara guru dan para siswa secara konstan berinteraksi satu sama lainnya. Para guru bisa mengajukan pertanyaan, memberikan umpan balik, mengelola penghargaan dan hukuman, menguji dan mengkritik, merespons pertanyaan dan permintaan bantuan dari para siswa, serta menawarkan bantuan ketika para siswanya mengalami kesulitan.
(c) Metode Instruksional Perilaku untuk Pembelajaran Optimal bagi kebutuhan Akademik Siswa (Kelompok Kelas)—menciptakan lingkungan kelas yang positif yang dicirikan dengan pengajaran efektif, dan keterampilan organisasi akan menyebabkan berkurangnya masalah perilaku dan meningkatkan prestasi belajar serta motivasi belajar siswa. Disini guru membutuhkan kerterampilan manajemen perilaku untuk mendukung keahlian intruksional mereka
(d) Melibatkan Metode Konseling dan Perilaku yang Melibatkan Siswa—menggunakan strategi konseling mendalam disini adalah dengan pendekatan yang efektif dan reklatif sederhana untuk membantu siswa meneliti dan mengubah perilaku mereka. Jadi disini guru harus menguasai teknik pemecahan masalah dan manajemen perilaku.
Selanjutnya untuk menyempurnakan keempat ranah pendekatan manajemen kelas di atas, Lee Manning & Katherine Bucher (2012), melalui karyanya yang berjudul “Classroom Management”, kemudian merangkum beberapa model dan teknik manajemen kelas yang ditawarkan oleh 4 (empat) orang ahli melalui pendekatan-pendekatan khusus yang sesuai dengan situasi dan konteksnya, diantaranya adalah sebagai berikut:
(1) Seorang pendidik behaviorisme, B. F Skinner yang terkenal dengan berbagai teorinya, khususnya model “Modifikasi Perilaku”, dengan teori dasarnya adalah pendidik menggunakan penekanan positif dan negatif atau penghargaan dan hukuman untuk mengubah atau membentuk perilaku siswa. Namun guru sendiri harus cenderung mengutamakan tindakan positif atau penghargaan untuk mengubah perilaku siswa. Ada sebuah usaha untuk tidak membuat peserta didik dipermalukan di depan teman-temannya, namun diberikan pemahaman atas suatu perilaku yang kurang baik secara langsung empat mata.
(2) Sementara Fritz Redl dan William Wattenberg, lebih menggunakan menggunakan model “kerja kelompok dan disiplin kelas”. Adapun teori dasarnya adalah pendidik mendorong siswa untuk memahami perilaku dan tindakan mereka. Di sini, pendidik dituntut untuk memberi pemahaman kepada peserta didik bahwa perilaku peserta didik itu berbeda secara individu dan sebagai anggota kelompok. Di samping itu, pendidik harus melihat situasi senang atau tidak senang untuk mengubah perilaku peserta didik. Disinilah guru seringkali kesulitan mengarahkan peserta didik dalam sebuah kelompok. Bahkan pemberian nilai untuk masing-masing anggota kelompok juga kadang-kadang masih terasa sulit, manakah yang benar-benar bekerja, dan manakah yang hanya main-main saja? Situasi senang atau tidak, juga tidak kalah menantangnya. Karena biasanya, ada seorang peserta didik yang tampaknya sedang ber-mood jelek, namun tetap bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, ada peserta didik yang tampaknya berseri-seri, tapi tidak berhasil memahami materi pembelajaran.
(3) William Glasser menggunakan model “Teori Pilihan dan Kualitas Sekolah”. Adapun teori dasarnya adalah sekolah membantu memenuhi kebutuhan psikologis siswa dan menambah kualitas hidup mereka. Salah satu yang dilakukan pada model di atas adalah adanya pertemuan kelas. Di sini, salah satu tantangannya adalah bagaimana menciptakan suasana yang kondusif.
(4) Thomas Gordon menggunakan model “Pelatihan Guru Efektif”. Adapun teori dasarnya adalah pendidik mengajarkan disiplin diri, menunjukkan cara mendengarkan aktif, mengirim "I-message" daripada "you-message" dan mengajar program mengatasi konflik enam langkah. Menurut teori ini, bahwa salah satu cara terbaik untuk memperbaiki atau mencegah kenakalan adalah pemahaman empatik; yaitu guru mempelajari setiap siswa dan kebutuhan, minat, dan kemampuan mereka. Tampaknya dengan cara ini guru akan tampil bijak, tidak mengumbar marah dan teriakan. Tantangannya adalah ketika kesalahan peserta didik sudah masuk kategori sangat banyak, besar dan serius.
Dari serangkaian penjelasan diatas, dapat ditarik pemahaman mendasar, bahwa hal yang terpenting dalam menajemen kelas di sini adalah bagaimana terjalin suatu “relasi” yang baik dan proporsional antara guru dan murid. Karena kelas pada dasarnya, merupakan tempat yang aktif, tetapi juga produktif, bagi kelangsungan relasi antara guru dan para siswa secara konstan berinteraksi satu sama lainnya. Para guru bisa mengajukan pertanyaan, memberikan umpan balik, mengelola penghargaan dan hukuman, menguji dan mengkritik, merespons pertanyaan dan permintaan bantuan dari para siswa, serta menawarkan bantuan ketika para siswanya mengalami kesulitan.
Oleh Abdy Busthan

Posting Komentar